![]() |
| Tiananmen Square |
![]() |
| Tiananmen Square |
| Tiananmen Gate, the entrance gate of the Forbidden City from the Tiananmen Square in Beijing |
![]() |
| this is how you would look like |
![]() |
| YUCK |
![]() |
| GIRLS |
![]() | ||||||
| Austra |
![]() |
| M83 |
[Hei ini hari terakhir di bulan Februari!! Harus segera posting!]
aku tua ya? Tua atau nggak tergantung persepsi. Aku tua dibandingkan anak smp, tapi aku jauh lebih muda dari sebagian besar orang-orang di kantor..hahaha *teteeeep
26 tahun sudah aku hidup. Setiap ulang tahunku datang, terasa ada hal yang lebih istimewa. Walaupun sebenarnya, sejak dulu aku bukan orang yang menganggap hari ulang tahun adalah hari yang “lebih” dibanding hari-hari lainnya. Aku nggak pernah punya pesta ulang taun yang heboh. Mungkin terakhir waktu TK, pesta ulang tahun di sekolah, bahkan umur 17 tahun pun, biasa saja.
Ulang tahun adalah momen di mana kita mengingat lagi apa yang sudah kita kerjakan, dan apa yang akan kita kerjakan di masa depan. Hampir mirip seperti tahun baru. Ya ulang tahun aku nggak jauh2 dari tahun baru, nuansanya masih mirip-mirip.
Ulang tahun ini terasa beda, karena aku sudah tidak menerima lagi ucapan dari Paya. Percaya nggak, tapi di tanggal 15 Feb pagi, aku mimpi, masukin mobil ke garasi sama Paya, rasanya kita abis pergi bareng. Kita ngobrol soal bensin mobil dan indikator panel di dasbor. Memang beliau nggak ngucapin selamat ulang taun, tapi beliau jawab bbrp pertanyaanku soal mobil. Ah, Paya………..
Beberapa tahun yang lalu aku pengen bikin kompilasi ucapan ulang tahun dari semua temen-temen, tapi belum sempat. Tahun ini harus. Ucapan ulang tahun itu seperti momen yang membawa semua temen lama maupun temen baru. Ada yang dulu ngucapin, tapi nggak lagi. Ada juga yang dulu belum kenal jadi nggak ngucapin, tapi taun ini ngucapin.
Serunya, dari ucapan ulang taun itu, bisa jadi obrolan pun berlanjut.. “apa kabar, sekarang di mana? Sibuk apa?” atau, dari ucapan itu aku bisa introspeksi tentang diri sendiri, seperti apa sih image kita di mata teman2 “semoga makin gaul” – oh jadi aku dianggepnya gaul.. entah dalam konotasi positif atau sarkastik, ah biarin lah.
Ada lagi, yang istimewa, adalah kado-kado dari temen baik. Kado digital yang imut-imut dari kang Dadang: gambar perempuan nyalain lilin di atas kue dan meniupnya. Aku sendiri hampir ngga inget kapan terakhir meniup lilin ulang taun. Hahaha. 
nuhun ya kang @lesmanadadang
Ada lagi kado digital yang nggak kalah imut dari @tamagraph, lelaki muda yang puitis & manis *haiss, dibawakan oleh keponakannya, Zhizhi, yang bulet semuanya, dari mata, pipi, sampai bibir cembetutnya, hihhhh gemes.. untung tulisannya bukan “Tante Titis” tapi “ka Titis” 
*pengen peluk Zhizhi!!!
….trus jadi speechless….hahaha Thank God, each birthday reminds me that i have known a lot of people who care about me..
*abis itu kompilasi ucapannya males juga dong, abis banyaaaaak bangeeeet :S
Emang ya rasanya beda kalau kita nonton band yang kita suka langsung di depan mata. Bisa gila! Eh aku ga mabok kan kemaren? Hahaha..
Finally, aku bisa liat Röyksopp, langsung di depan mata, ga perlu susah2 backpacking ke Eropa! Thanks to IsmayaLive, 8 Feb kemaren mereka didatengin ke sini! Inget bbrp tahun yang lalu dikenalin sama temennya Day, Mike. Kita langsung ngobrol nyambung gara-gara awalnya ngomongin Röyksopp. Waktu itu tahun 2008 kalo nggak salah, aku bilang kalo salah satu band yang pengen aku liat live-nya adalah Röyksopp.
Waktu itu aku sudah mulai suka musik-musik elektronik, tapi scene seperti itu belum mulai hype di Indonesia – eh apa aku yang ndeso ya.. :D penasaran aja musik-musik begitu livenya gimana. liat di you-tube keren, belum lagi album Röyksopp’s Night Outnya yang memang direkam live rasanya gahar bener..
..daaaan, emang gahaaar, gila aku gilaaa.. loncat2 ga berhenti! Sempet ngerasain crowd di belakang deket mixer, pengen ngerasain sound yang optimal hihihi (biasanya aku selalu merangsek ke depan kalo nge-gig) yang ternyata crowdnya kurang heboh (apa karena ini Indonesia?). Bener aja pas pindah ke depan, ambiencenya jadi makin gilaaa..
Röyskopp didatengin sama IsmayaLive, sekalian sama Bag Raiders, Rory Phillips, dan Erol Alkan. Dua nama terakhir terkenal sbg DJ di UK, banyak remixan & rework mereka yang keren2. Tapi pas kemaren, mereka mainin mixingan lagu mereka sendiri. Bag Raiders was awesome, sayang mereka main duluan, jam 7 teng! Lha aku baru nyampe, pas banget masuk venue pas Turbo Lovenya hiks hiks.
Rory Philips on the deck
Röyksopp main abis Bag Raiders & Rory Philips, mereka buka pelan-pelan pake Alpha Male, trus Happy Up Here, hajar Remind me.. abis itu apa ya.. zzzz lupak.. ooh The Girl & The Robot, trus crowds calm down ke The Alcoholic, satu-satunya lagu dari album Senior yang dimainin..pas ini juga aku pindah ke depan nih.. trus aku lupaaa, ada True to Life, ada juga This Must Be It, ga inget udah mana duluan yang dimainin.. udah gila, mana dilanjut What Else is There & Only This Moment.. trus apa ya.. *parah sekipnya pokoknya tau2 encore: Poor Leno sama apa ya.. errrr tobat lupa!
Royskopp's Crowd
Pokoknya berakhir dengan berkeringat penuh semangat! Yay! Videonya cakep2 nih, Cuma gede banget sizenya karena pake HD, kapan2 diupload lah.. :*

Tadi pagi, rekan kerja saya menyodorkan majalah National Geographic Indonesia edisi Oktober 2011. “Tis, coba kamu baca, bagus nih insight tentang remaja”. Di sampulnya memang tertulis headline “Di Balik Gejolak Darah Muda – kami tak segila yang kalian kira”. Wah, terdengar menggoda ya? Jadi sambil menyalakan komputer kantor, saya pun mulai membaca artikel utama itu.
Remaja memang ditakdirkan berbuat nakal, rebellious, mencoba segala sesuatu yang baru karena perkembangan lobus parientalis mereka. Ibaratnya saat remaja, otak mereka memang “setengah jadi” maka dari situlah segala perilaku ajaib,aneh dan kadang terkesan bodoh, itu muncul. Perilaku mereka amatlah peka terhadap reinforcement positif, terutama social reinforcement. Remaja sangat tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan kawan-kawannya, dan akan melakukan hal-hal yang mengundang decak kagum kawan-kawannya. Sangat menggebu-gebu.
Pikiran saya pun kembali ke hari Sabtu yang lalu. Sebuah Sabtu sore yang panas di Jakarta, setelah menyelesaikan sesuatu yang alhamdulillah banget, saya mampir ke 7-eleven Senayan untuk minum air mineral dan kopi dingin. Saya terpaksa duduk di luar karena bangku di dalam penuh, selain karena teman saya ingin merokok. Kursi-kursi di teras itu hampir semuanya penuh, beberapa yang tersisa kosong mejanya kotor dan berantakan, duh. Akhirnya saya menemukan tempat duduk di sudut teras itu. Mata saya leluasa memandang ke seluruh sudut teras, isinya semuanya anak muda, saya yakin beberapa dari mereka masih masuk kriteria usia remaja.
Ada 2 meja yang menarik perhatian saya, meja berisi gadis-gadis remaja ibukota. Di meja yang satu gaya busananya sangat menarik, rok mini, blus bunga-bunga, wedges, sunglasses. Di meja yang satu lagi gaya busana standar, jeans, t-shirt dan sepatu flats. Mereka sama-sama berisik, tertawa riuh atau senyum lebar menunjukkan gigi berbehel sambil menyibakkan rambut panjangnya, dengan tangan tidak lepas dari blackberry (Kebayang kan? Tipikal remaja kota banget).
Di meja mereka ada botol hijau heineken. Saya yakin sih diantara mereka ada yang belum 21 tahun, jadi penasaran sebenarnya 7-11 atau circle-K di Indonesia rajin menanyakan identitas atau tidak sih ke remaja-remaja yang membeli minuman beralkohol itu? Waktu saya di luar negri, saya pernah membeli sekaleng bir di circle-K, dan mas kasirnya menanyakan identitas saya sambil cengar-cengir begitu sadar umur saya sudah 25 tahun. Di sana tertulis yang intinya “jangan merasa tersinggung ketika kami menanyakan kartu identitas anda karena berarti anda terlihat seperti 16 tahun atau lebih muda” hahaha. Oh ya kembali ke meja-meja remaja itu, botol heineken itu terlihat sudah tidak dingin, titik-titik embun di botol itu tidak terlihat. Sepertinya mereka sudah lama nongkrong di situ, tapi sayangnya botol bir itu masih terisi setengah. Tak seberapa lama, si empunya botol menegak isinya, hanya sedikit yang masuk ke mulut, raut wajah datar terlihat sedikit susah menelannya, dan ia meraih chitato di sisi meja yang lain. Kasihan, seperti tersiksa.
Sementara meja lain yang lebih atraktif, seorang baru saja kembali dari dalam 7-eleven, membawa sebotol mix max hijau, dan sekaleng coke. Di gelas slurpee dia mulai meramu minuman, mix max dicampur bir, dan satu lagi coke dan bir. Terlihat mata mereka mengerjap setelah mencoba ramuan itu. Sebel ya, kalau remaja memaksakan diri seperti itu.
Kenapa harus memaksakan diri sih? Karena nongkrong di 7-eleven sambil minum bir & merokok itu keren. Sayang ya, ketika kita remaja kita memang berusaha menyamakan diri dengan teman-teman, dengan trend, tapi menjadi sia-sia kalau ternyata kita bukannya berusaha menemukan diri kita. Jangan lah minum kalau tidak bisa menikmati, jangan merokok jika memang bukan ketagihan nikotin. Maksudnya, boleh saja mengikuti trend, supaya bukan menjadi outliar, tapi ada kalanya mesti kembali ke diri sendiri, bagaimana tidak kehilangan jati diri (eh tapi masa remaja kan memang masa mencari jati diri ya?) bagaimana mulai menggali dalam hati kita, apa sih yang memang ingin kita kerjakan. Apa sih aspirasi kita? Mau jadi apa sih kita? Kok kita ya? Saya kan sudah bukan remaja J Remaja memang harus berani memberontak, tapi bagaimana mengekspresikannya itu yang sebaiknya dengan cara yang kreatif. Gimana adek-adek?
(Ending tulisan ini kenapa jadi terkesan membingungkan dan labil ya? Apa saya masih remaja?)