





they're in southern Jogjakarta.
Gildas Loaec itu adalah foundernya Kitsune Label, yang juga meng-kurasi single-single yang akan masuk dalam kompilasi Maison Kitsune, atau seri mixtapenya. Gildas dulunya art directornya Daft Punk –hiiaahh keren ya? Kitsune sendiri sudah menemukan the amazingly Two Door Cinema Club, Is Tropical, Logo, bahkan The Drums juga masuk ke daftar kompilasinya. Belum lagi remixan edgy yang nggak norak *menurut aku ya* kaya’ Kitsune x Ponystep, atau yg paling gres Gildas’ Kitsune Club Night mixtape.. subhanawloh sekali permirsah!
Jam 11 kurang lima *malem pastinya* aku sudah nyampe di Blowfish, serasa nostalgia nonton The Drums, cuma nggak ada geng nge-gigsnya ini. Janjian dengan Dennis, yang akan memindahtangankan undangan VIP, thanks to the kind man @Mangmoty. Di depan venue ketemu Jaka, man behind JW86 – the famous chiptune guy.. jam 12an lah si Moonlight Matters mulai di DJ deck.. beat santai, crowds masih duduk2 manis merokok minum ngobrol sambil goyangin kepala. Aku juga ngga inget sih, abis itu ngapain LOL.. pokoknya pas Moonlight mainin remixan Is Tropicalnya langsung lah crowds maju ke depan, mulai rame. Moonlight Matters masih mainin DJ decks sampe setengah jam ke depan lah.. abis itu udah aja tau-tau Gildas Loaec spinning. Sumpah nggak mabuk, tapi ngantuk, plus ndeso nggak ngeh.
Gildas mainin TDCC – I can talk, ada juga Liztomania Phoenix, Yelle – safari disco club.. yang aku tunggu-tunggu juga main Happy Housenya Shindu.. tapi cm filling loop dikit! Seneng deh bisa nyanyi, sementara ada mas-mas ngaplo sebelahku.. ihh nggak tau lagunya ya mas? Abis itu aku malah brasa rada ‘turun’ moodnya meskipun beat nya tetep up. Thanks to illusions sehingga aku mampu maintain the excitement. LOL. Abis itu juga aku ngga tau, tiba-tiba aja udah punks jump up.. sempet ngrasa “yah segitu doang Gildasnya..” banyak lagu-lagu yg tak arepin muncul, tapi ngga ada.. huh..
Ternyata tapi yah, Punks Jump Up lebih asik moodnya.. mainin lagu2 dia sendiri, trus remixan Lykke Li – follow rivers, La Roux – in for the kill, Crystal Castles juga.. omg.. nongkrong aku di depan DJ decks.. sampe buyar! Gimana ya, anak gigs, loncat2 berjam2 juga kuat, cuma jogedan aja sih bisa banget! \m/ malem itu dapet 1 t-shirt sak welase dari mba Chika Brand Managernya Blowfish & Gildas, sama 1 t-shirt official Punks Jump Up langsung dari beliau berdua..
Bisa juga aku having fun in the club, ampunilah saya ternyata saya suka musik electric berdentum keras.. bukan cuma di earphone, atau speaker rumah, atau mobil, but a whole world <3
I also thought I have fallen in love with him (only one of them LOL) in the past, and imagined if I were his girlfriend, but again, the feeling is not the same with the love and lust game with my lovers. I don’t have lust towards these 2 guys. Very true. I never imagined I would do bed scene with one of them. Yuck. Then I know, I do believe in female-male friendship.
We have been together since 2001. Yes it’s been 10 years now. So funny watching each other grew up, fell in love, teenage quarells, move out the city, struggling over the college stuffs, and now we are the grown ups. A decade of life. Ah ok, I think I need to shed my tears now. We keep going together though we live in different cities now.
Bowo, last weekend he got married in Jogjakarta. Yes married, he is the very first from all of us. *laughing* we are old enough to get married now.. me, could hardly believe it. The feeling was so absurd. The person you know since junior high. Since he was a lil boy, now become a man who would start his own fam. Wow!
I was really prepared if I would cry during the wedding ceremony. I just could not hold my tears saw Aiman and Bowo hug each other, a bear hug. Two guys I really love.. congratulations dear.. wish we stay like this forever..

Akhirnya kemarin (Minggu, 19 Juni 2011) aku main-main sama anak kecil lagi. Anak kecil berwajah malu-malu, yang takut-takut buat menatap wajah orang lain. Tapi, ehm, maaf ya, aku bisa ngobrol kok dengan mereka. Mereka anak pesantren yang didoktrin ina-itu, yang menurut aku ujung-ujungnya Cuma bakal jadi orang hipokrit kayak ustadnya.
Mereka yang perempuan nggak boleh berdiri di depan umum, di depan lelaki.. dilarang keras membuat kontak mata dengan orang lain. Ah, payah. 
Kids will be kids, I believe so. Mereka tetap bandel, cerewet, banyak bertanya, dan pastinya banyak bercerita. Wajah sumringah, mata berbinar karena warna warni krayon yang disodorkan. Baju muslim putih yang warnanya mulai menguning, bikin aku trenyuh. Beberapa dari mereka malah sudah kehilangan orangtuanya.
Mungkin kita sebagai orang dewasa akan berpikir, betapa beratnya beban hidup mereka. Ya memang berat, tapi anak-anak punya keajaiban dalam diri mereka. An endless happiness. Kamu yang sudah dewasa sudah kehilangan keajaiban ini, maaf ya. Itu dia sebabnya, anak-anak itu harusnya sumber inspirasi orang dewasa. Percaya kan, kalau kita makin tua makin bego, bukannya makin kreatif.
Seneng juga akhirnya Indonesia Bercerita Jakarta bisa bikin kegiatan offline. Lama bener rasanya persiapannya, padahal ya serba dadakan juga. Mulai belanja pritilan, roti, sama bikin goodie bags. Gawatnya, itu nagih. Awalnya aku nggak berniat bercuap2 di depan anak-anak, tiba-tiba aja didapuk jadi perwakilan buat menyapa anak-anak.. aaah denger teriakan mereka aja bikin seneng, nagih!
Kemarin aku nggak bawain cerita sih, tapi besok-besok mau ah kak.. kak Titis bisa kok bacain cerita hahaha.. mau bikin video lucu ah.. sapa bisa bantuin? ;)
When crayon is a luxury, and got nothing to worry. KIDS.
Laneway Festival sebenernya belum terkenal seheboh Coachella ato Glastonbury Festival. Kedua festival musik yang terakhir disebutkan adalah festival musik tahunan yang cukup besar, most anticipated, terutama para penggemar musik indie. Coachella di San Fransisco, US. Sedangkan Glastonbury, di UK. Inggris dan Amerika memiliki scene musik indie yang cukup maju. Nampaknya, Australia yang scene musik indienya sedang merangkak naik untuk berkembang juga memiliki festival musik tahunan, salah satunya St Jerome’s Laneway Festival.
St Jerome’s Laneway sudah diadakan secara tahunan selama 8 tahun. Awalnya Festival ini diadakan untuk merayakan ulang tahun club di Melbourne yang kemudian menjelma menjadi salah satu festival music indie terbesar di Australia.
Istimewanya tahun 2011 ini, Laneway Festival juga menginjakkan kakinya di Singapura. Yep, negara tetangga kita. Line-up artistnya yang dibawa ke Singapura juga sangat istimewa. Ohh haruskah disebutkan? Jangan iri jangan menyesal bagi yang belum sempat nonton ya.. *smirk* Warpaint, Ladyhawke, Beach House, Deerhunter, Holy Fuck, !!! (chk chk chk), Yeasayer, FOALS, and Temper Trap. Freakin’ efin’ awesome!!
Aku bela-belain nonton demi Beach House dan Foals, my inspiring artists. Selama ini cuma mimpi pengen nonton mereka, bahkan rasanya kok rada nggak mungkin dateng ke Indonesia. Mumpung mereka main ke Singapura, yaudah mari kita hajar berbackpack ria ke Singapura.
Sabtu, 29 Januari 2011. Gate masuk dibuka dari jam 13.00 waktu Singapura. Waktu itu aku masih di stasiun MRT Dhoby Ghaut, deket Orchard Ave. hujan gede banget, dan memutuskan buat makan dulu. Di situ aku, day, pandu, janji untuk ketemu dengan feli, mimi, dan nicole (2 nama terakhir adalah temennya feli, Singaporean)
Jam 2an kita sampe di Fort Canning Park, langsung masuk ke venue. Antre nggak panjang dan cepet. Tas nggak terlalu diperiksa, kalo ada makanan / minuman dari luar langsung keluarin di meja penampungan. Di peraturan memang sudah disebutkan no outside food & drink allowed. Dibandingkan dengan pemeriksaan di Indonesia, rasanya nyante banget. Nggak pake bodyguard gede bin serem, nice and friendly face. Semua orang yang dateng rasanya emang niatnya bersenang-senang dan petugasnya udah percaya.
Tag di tangan sudah dipasang, dibagiin booklet festivalnya dan free emergency raincoat, di depan panggung sudah banyak yang merapat. Tepat jam setengah 3, sesuai jadwal, Laneway dibuka langsung dihajar Warpaint.
Warpaint, berempat, cewek-cewek semua, cantik, apalagi bassistnya. Tapi aku nggak terlalu kenal musiknya, cuma ikut nyanyi bareng di lagu Undertow. Sound mereka bagus, kadang vokalisnya rada gengges nada2 minor gitu.. hihihi.. aku sih buka travel mat di atas bukit, biar bisa duduk & full view ke panggung. Hemat energi buat band-band yang aku tunggu. Cuaca sore itu mendung sisa hujan tapi masih kerasa panas. Lanjut Ladyhawke yang menggebrak, rame dan heboh dibawah loncat2 dan nyanyi bareng. Hitsnya Paris is Burning, sama penutupnya, Delirium dimainin bikin aku ga tahan jadi berdiri loncat2 sendiri.
Dan hujan pun turun waktu di stage lagi siap2 buat Beach House, aku nyelinap naik di balkon VIP ;p isinya bule semua, dan sempet ada cewe Singapore yang nemenin aku teriak2 di balkon itu waktu Beach House main. Hujan berhenti, saya pun diusir turun ke bawah. Beach House buka pake lagu Gila, lanjut Walk in the park, Norway, Real Love, Used to be..apalagi ya, banyak lah, ditutup pake 10 Mile Stereo. I was dancing barefoot under the showering rain. Magic. Absolutely magic.
Sudah cukup capek, beli drink coupon dan ditukarkan dengan segelas bir dingin. Okelah 8 S$ (my wallet was crying down there) buat segelas Tiger dingin. Kebelet ke toilet? Banyak portable toilet dipasang di samping. Rusuh, tapi tetep wangi, ga bau pesing.
Waktu itu Deerhunter sudah on stage, mereka setting alat sendiri. Lagu2 dari album Microcastle dimainin, termasuk Agoraphobia. Nasibku dengerin mereka sambil ngantre toilet. Tipsnya adalah, ngantrelah toilet waktu main stage sudah ada artistnya, karena antrian minum, makan dan toilet sepi.
Selesai Deerhunter, siap2 merangsek masuk ke depan panggung untuk Holy Fuck! Mereka juga set sendiri alat-alatnya, dibantu kru satu atau dua orang saja.. alat-alat yang mereka bawa dan perlu disetting cukup banyak dan aneh-aneh. Ndeso pol lah aku liatnya. Ya maklum, aku kan bukan musisi, cuma penggemar musik biasa.
Dibuka pake lagu-lagu dari album barunya: Latin America.. aku nggak apal deh judul2nya, yang jelas S.H.T MTN dimainin, p.i.g.s kayanya juga.. gila mereka asyik banget mainnya, dancing like crazy.. ditutup dengan Lovely Allen, wajib lah ya, dan ternyata suara baseball di awal lagunya itu bukan sampling, mereka bawa alatnya. *sinting* Agak gila di otak lihat band yang lagunya biasa di kupingku sepanjang kerja seharian jadi nyata di depan mata.
Selesai Holy Fuck, !!! siap-siap, mereka masuk nominasi best band di NME loh, great band I know. Vokalisnya atraktif banget, pakai kaos I love Singapore, loncat2, jalan2, masuk ke ke kerumunan penonton, hujan-hujanan, dilemparin bra yang terus digantung di tiang microphone, haha.. satu lagi kejutan !!!, salah satu personelnya, black woman with outstanding hairdo was blending with the crowds earlier. Siauuuul, soalnya dia di sebelahku waktu Beach House, crop t-shirtnya aku suka, sayang perutnya rada ndut gitu pikirku, makanya aku inget. Jamie, my intentions are bass menutup performance mereka dengan asoynya.
Yeasayer, siap2 di panggung, aku terus standby demi posisi terciamik nonton Foals. Enaknya festival ini ada DJ yang siap memainkan playlist lagu2 indie sepanjang pergantian set di panggung.. no silent moment baby.. Yeasayer ini cukup fenomenal karena unsur ecletic di lagu2nya, aku rasa sih karena salah satu vokalis & gitarisnya ada keturunan Indianya. Asyik. Cengkok-cengkok ala melayu itu mengingatkanku pada Charlie ST12 versi lebih berselera hahaha. No offense.
Tiba lah di saat Foals. Panggung mulai ditata, drum mulai disetting, rak gitar dijinjing masuk, keyboard, dan segala sesuatunya. Dj masih mainin lagu, dan saat stage manager menunjukkan jempolnya ke Dj, musik berhenti, dan kami semua di depan panggung teriak.. Foals Foals Foals Foals! Astaga naga rasanya nggak karuan, deg-degan.. belum lagi hujan yang makin deres.. beneran merinding. Rasanya beneran nggak kebayang, menghentakkan kepala yang basah kena air hujan.. mekibas2kan rambut penuh tetesan hujan.. merem & ngerasain titik2 hujan di wajah sambil bayangin ada Janis nyanyi di depanmu, dan waktu buka mata, emang ada dia, ada Foals nyanyi di depan! So real yet sureal.. aku nangis di lagu Spanish Sahara. So deep!
Kebanyakan lagu yang dimainkan lagu-lagu dari album antidotes, album total life forever Cuma nyumbang Blue blood, Total Life forever, dan Spanish Sahara. I am satisfied but not enough,, haha nggak bakal bisa bilang cukup deh sama Foals. Janis sempet tantrum rasanya waktu Two Steps Twice.
BEACH HOUSE!
mengantre toilet, kubik abu-abu itu lah toiletnya, handsfree flushing
should be more summer feeling than this..
bar yg menyediakan kebutuhan kesegaran dari yang halal air minum Fiji, Cokes / Sprites,
Tips nonton festival music dari saya *just sharing:
Tahun 2010 sudah mau habis, look what you’ve got, any blasting moments? Yeah. Saya punya banyak blasting moment tahun ini. Prestasi yang membanggakan.
Tapi aku bukan mau bicarain itu, tentang siapa yang kita tinggalkan di belakang. Setaun terakhir ini aku cukup sibuk sama kerjaan, dan sibuk dengan obsesi pribadi. Walaupun sebenarnya aku masih merasa bingung sebenarnya apa pencapaian sekarang sudah sesuai dengan arah yang pengen aku capai.
Tentang apa yang kita tinggalkan di belakang.
Past life. Hometown. Teman, atau mungkin sahabat terdekat yang mulai jauh. Entah aku yang lelah mengejar mereka, atau aku yang melupakan mereka, atau memang kami beda arah?
Sahabat-sahabat terdekatku mulai sibuk dengan kehidupan mereka. They are all married, getting married, engaged, and dating an engaged man (wtf!). Mereka tidak tersentuh teknologi. Mereka masih saling berkomunikasi cara konvensional. Telpon. Boro2 twitter, YM aja jarang online. Ya sudah, jarak pun memisahkan kami.
Apa lagi yang kita tinggalkan di belakang?
Grandparents. Sudah mulai jarang pulang ke Malang. Sampai suatu pagi di awal Desember, Yangtiku nelpon, dan kata-kata pertamanya adalah “kapan kowe mulih nduk?” Mulih berarti ke Malang, bertemu dengannya, berbagi cerita. I am still her little queen.
*air mata menggenang* aku nggak mau nangis. Ini resiko.
Sejak Yangkung sedo setahun yang lalu emang iya sih, effort buat nyempetin ke Malang agak berkurang. Ahh iya, aku sempetin ya Yangti, aku janji.
Kadang aku merasa ingin kembali ke dekapan yang nyaman di rumah. Tapi, apakah salah jika kita terbang tinggi mengejar impian dan mimpi. Bebas, menjalankan hidup kita sendiri. Tidak berada di bayangan siapa-siapa.
Walaupun kita harus meninggalkan beberapa hal yang kita sayangi.
Saya bukan orang yang egois, arrogant, sombong, atau lupa asal muasal saya. Tapi ketika yang ada di kehidupan yang lalu mulai memberatkan, ada kalanya harus dilepaskan sedikit demi sedikit walau itu menyakitkan.
Ya gitu deh, kalo aku pulang ada yang mau ketemuan hayoook, nggak ada yang ngreken ya di rumah aja. Rugi sendiri nggak temenan sama aku lagi.
2011 harus bikin sesuatu yang memorable lagi! Semangat! Life is good, and will always be..
Ps: maaf Mama, Paya, aku tahun baru ini ngga pulang, next Feb mungkin yaaa.